enambelas
Ponselku bergetar dan membuatku terbangun. Sebuah pesan singkat terpampang pada layarnya dan dengan pandangan yang setengah kabur aku membukanya.
Bisakah kita bertemu sekarang? Aku di depan rumahmu…
Dan pesan itu dari Fred. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan menegakkan badan, menggeliat dan menguap. Ini jam berapa? Dan saat kulihat jam di ponselku, disana ada angka 5.30 di layarnya. Apa dia gila?
Aku segera membuka jendela dan dia berdiri di bawah sana, sedang memandang ke atas dan dia memberi tanda padaku agar aku turun. Aku segera menutup tirai, mengganti piyamaku dengan sweater dan celana jins, menyikat gigi dan segera turun untuk bergabung dengannya.
“Ada apa?” tanyaku sambil mengikat rambut.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo..” dan dia membukakan pintu mobilnya untukku.
Apa lagi sih ini? dan sambil menebak-nebak selama perjalanan dalam mobilnya aku merasa perasaan teraneh dalam hidupku dan itu dinamakan, rindu. Indah sekali rasanya. Dan selama perjalanan kami hanya bicara satu dua kata, aku sendiri lebih banyak melihat keluar jendela, melihat orang-orang mulai melanjutkan aktivitas mereka.
Kini mobilnya merapat pada trotoar, matahari samar-samar muncul di ufuk timur dan burung-burung berkicau. Dia turun dari mobil dan aku mengikutinya, entah kami ada dimana yang jelas di depanku adalah sebuah gedung tua dan di sekitar gedung itu adalah beberapa orang sedang lari pagi sendiri atau dengan anjing mereka.
Dia mengeluarkan sekerenceng kunci dan memasukkan salah satunya pada pintu depan gedung itu dan dengan bunyi ‘klik’ pintu itu terbuka. Dia membimbing jalanku melewati pintu depan gedung putih yang berwarna kecokelatan karena kotor itu. Ruangan di dalamnya bisa dibilang rapi namun tidak ada orang, sepi dan gelap. Aku punya perasaan tidak nyaman di dalam sini.
“Ini adalah kantor Ayahku yang akan dijual karena akan berganti lokasi..” katanya dan dia menaiki tangga dan menyuruhku mengikutinya. Dan ternyata acara naik tangga berubah menjadi olahraga pagi karena tangga yang kami naiki rasanya tidak habis-habis.
“Berapa banyak lagi sih tangganya? Aku mulai lelah.” Kataku memprotes dan dia hanya tertawa.
“Beberapa.” Jawabnya singkat dan dia terus naik. Kakiku mulai sakit dan pegal saat akhirnya kami berhenti. Ini bukan lantai paling atas karena masih ada tangga lain yang menuju ke atas tapi dia membuka sebuah pintu dan memberi sinyal agar aku mengikutinya dan pintu ajaib itu, membimbingku ke tempat paling luar biasa dalam hidupku.
Sinar-sinar hangat mentari menyentuh tubuhku dan saat itu kami berada di suatu tempat luas, mirip atap sekolah, namun dari tempat ini, kami bisa melihat gunung di kejauhan dan matahari yang melengkapi semua pemandangan indah di hadapan mata. Jajaran gunung berhimpit membentuk gugusan dari timur ke barat dan dari tempat ini kami bisa melihat setengah kota.
Sinar matahari terpantul-pantul pada kaca mobil yang masih belum bergerak karena pemiliknya masih beristirahat, sinar matahari terpantul pada kaca-kaca gedung-gedung tinggi dan membuatnya terlihat seperti bercahaya, semuanya terlihat bercahaya dari atas sini.
Ada perasaan bahwa tangan-tanganku yang kini terulur bisa memeluk semuanya dan setelah mengetahui bahwa aku tidak bisa maka aku hanya diam memandangnya, takjub oleh keindahan alam. Dan ini bukanlah kali pertama Fred menunjukkan keindahan padaku, dia sudah menunjukkan keindahan malam padaku dan kini keindahan mentari pagi yang baru terbit.
“Indah..” kataku tanpa sadar dan dia tersenyum puas.
“Sudah!” katanya tiba-tiba dan aku menoleh padanya, “apanya yang sudah?”
“Terbayar sudah.” dan kini aku semakin bingung. “Sudah berminggu-minggu aku memikirkanmu dan bagaimana cara mengganti wajahmu yang sedih dalam kepalaku menjadi wajahmu yang bahagia seperti dulu. Dan aku tahu, mungkin pertemuan terakhir waktu itu adalah dengan hujan yang juga mempertemukan kita dulu…mungkin kau sudah lupa, tapi aku akan selalu ingat bagaimana kau menggigil kedinginan berjalan di trotoar dan membentakku saat kutawari tumpangan…” dia tertawa kecil dan aku merasa wajahku memerah, “ tapi kini aku ingin memulainya dari awal lagi, diawali dengan matahari terbit dan matahari akan selalu terbit setiap hari kan?” aku tidak percaya dengan perkataannya. Jadi dia membawaku kesini demi melihat reaksiku yang bahagia?
“Aku akan pergi besok…” katanya tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Aku merasa cekaman kesedihan dalam dadaku, namun kubiarkan dan kututupi dengan senyum. “Jam berapa?” tanyaku.
“Jam 7 pagi.” Jawabnya singkat, matanya seperti selalu tertawa dan senyumnya bagaikan malaikat. Aku menolehkan pandanganku darinya pada pemandangan di hadapan kami. “Aku akan merindukanmu.” Kataku pelan dan kini mataku berair namun kuusap pergi. Aku tidak akan menangis pada hari seindah ini.
Dan dalam sekejap kurasakan tangannya mendekapku dan kali ini aku tidak akan menepisnya. Dan saat matahari sudah terbit sepenuhnya, dengan demikian, tahun ajaran ini berakhir dengan seharusnya. Aku akan naik kelas dan melanjutkan hidupku dan Fred akan melanjutkan hidupnya di Amerika.
Aku tidak percaya ini akan berakhir.
Dan sudah berakhir saat matahari keesokan harinya terbit. Saat jam menunjukkan pukul 7.00 keesokan harinya, aku mengirimkan pesan dari ponselku:
take care…
dan aku mendapatkan balasan cepat sekali
Goodbye Cres..thanks
Take care..
Dan aku membuka jendela kamarku dan menunggu. Menunggu hingga sebuah pesawat melintas di jendela kamarku dan aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak menangis dan untuk alasan itulah aku tidak datang ke bandara, aku ingin melepasnya dengan rela, tidak dengan tangisan.
Saat sebuah pesawat putih melintas di langit pagi, dilatari sinar matahari pagi, aku menarik seuntai senyum dan melepas kepergiannya. Pesawat putihnya semakin tinggi dan tinggi, seperti bulu dandelion kecil yang terbang pergi. Selamat tinggal Fred, I’m going to miss you very soon…..
Bisakah kita bertemu sekarang? Aku di depan rumahmu…
Dan pesan itu dari Fred. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan menegakkan badan, menggeliat dan menguap. Ini jam berapa? Dan saat kulihat jam di ponselku, disana ada angka 5.30 di layarnya. Apa dia gila?
Aku segera membuka jendela dan dia berdiri di bawah sana, sedang memandang ke atas dan dia memberi tanda padaku agar aku turun. Aku segera menutup tirai, mengganti piyamaku dengan sweater dan celana jins, menyikat gigi dan segera turun untuk bergabung dengannya.
“Ada apa?” tanyaku sambil mengikat rambut.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo..” dan dia membukakan pintu mobilnya untukku.
Apa lagi sih ini? dan sambil menebak-nebak selama perjalanan dalam mobilnya aku merasa perasaan teraneh dalam hidupku dan itu dinamakan, rindu. Indah sekali rasanya. Dan selama perjalanan kami hanya bicara satu dua kata, aku sendiri lebih banyak melihat keluar jendela, melihat orang-orang mulai melanjutkan aktivitas mereka.
Kini mobilnya merapat pada trotoar, matahari samar-samar muncul di ufuk timur dan burung-burung berkicau. Dia turun dari mobil dan aku mengikutinya, entah kami ada dimana yang jelas di depanku adalah sebuah gedung tua dan di sekitar gedung itu adalah beberapa orang sedang lari pagi sendiri atau dengan anjing mereka.
Dia mengeluarkan sekerenceng kunci dan memasukkan salah satunya pada pintu depan gedung itu dan dengan bunyi ‘klik’ pintu itu terbuka. Dia membimbing jalanku melewati pintu depan gedung putih yang berwarna kecokelatan karena kotor itu. Ruangan di dalamnya bisa dibilang rapi namun tidak ada orang, sepi dan gelap. Aku punya perasaan tidak nyaman di dalam sini.
“Ini adalah kantor Ayahku yang akan dijual karena akan berganti lokasi..” katanya dan dia menaiki tangga dan menyuruhku mengikutinya. Dan ternyata acara naik tangga berubah menjadi olahraga pagi karena tangga yang kami naiki rasanya tidak habis-habis.
“Berapa banyak lagi sih tangganya? Aku mulai lelah.” Kataku memprotes dan dia hanya tertawa.
“Beberapa.” Jawabnya singkat dan dia terus naik. Kakiku mulai sakit dan pegal saat akhirnya kami berhenti. Ini bukan lantai paling atas karena masih ada tangga lain yang menuju ke atas tapi dia membuka sebuah pintu dan memberi sinyal agar aku mengikutinya dan pintu ajaib itu, membimbingku ke tempat paling luar biasa dalam hidupku.
Sinar-sinar hangat mentari menyentuh tubuhku dan saat itu kami berada di suatu tempat luas, mirip atap sekolah, namun dari tempat ini, kami bisa melihat gunung di kejauhan dan matahari yang melengkapi semua pemandangan indah di hadapan mata. Jajaran gunung berhimpit membentuk gugusan dari timur ke barat dan dari tempat ini kami bisa melihat setengah kota.
Sinar matahari terpantul-pantul pada kaca mobil yang masih belum bergerak karena pemiliknya masih beristirahat, sinar matahari terpantul pada kaca-kaca gedung-gedung tinggi dan membuatnya terlihat seperti bercahaya, semuanya terlihat bercahaya dari atas sini.
Ada perasaan bahwa tangan-tanganku yang kini terulur bisa memeluk semuanya dan setelah mengetahui bahwa aku tidak bisa maka aku hanya diam memandangnya, takjub oleh keindahan alam. Dan ini bukanlah kali pertama Fred menunjukkan keindahan padaku, dia sudah menunjukkan keindahan malam padaku dan kini keindahan mentari pagi yang baru terbit.
“Indah..” kataku tanpa sadar dan dia tersenyum puas.
“Sudah!” katanya tiba-tiba dan aku menoleh padanya, “apanya yang sudah?”
“Terbayar sudah.” dan kini aku semakin bingung. “Sudah berminggu-minggu aku memikirkanmu dan bagaimana cara mengganti wajahmu yang sedih dalam kepalaku menjadi wajahmu yang bahagia seperti dulu. Dan aku tahu, mungkin pertemuan terakhir waktu itu adalah dengan hujan yang juga mempertemukan kita dulu…mungkin kau sudah lupa, tapi aku akan selalu ingat bagaimana kau menggigil kedinginan berjalan di trotoar dan membentakku saat kutawari tumpangan…” dia tertawa kecil dan aku merasa wajahku memerah, “ tapi kini aku ingin memulainya dari awal lagi, diawali dengan matahari terbit dan matahari akan selalu terbit setiap hari kan?” aku tidak percaya dengan perkataannya. Jadi dia membawaku kesini demi melihat reaksiku yang bahagia?
“Aku akan pergi besok…” katanya tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Aku merasa cekaman kesedihan dalam dadaku, namun kubiarkan dan kututupi dengan senyum. “Jam berapa?” tanyaku.
“Jam 7 pagi.” Jawabnya singkat, matanya seperti selalu tertawa dan senyumnya bagaikan malaikat. Aku menolehkan pandanganku darinya pada pemandangan di hadapan kami. “Aku akan merindukanmu.” Kataku pelan dan kini mataku berair namun kuusap pergi. Aku tidak akan menangis pada hari seindah ini.
Dan dalam sekejap kurasakan tangannya mendekapku dan kali ini aku tidak akan menepisnya. Dan saat matahari sudah terbit sepenuhnya, dengan demikian, tahun ajaran ini berakhir dengan seharusnya. Aku akan naik kelas dan melanjutkan hidupku dan Fred akan melanjutkan hidupnya di Amerika.
Aku tidak percaya ini akan berakhir.
Dan sudah berakhir saat matahari keesokan harinya terbit. Saat jam menunjukkan pukul 7.00 keesokan harinya, aku mengirimkan pesan dari ponselku:
take care…
dan aku mendapatkan balasan cepat sekali
Goodbye Cres..thanks
Take care..
Dan aku membuka jendela kamarku dan menunggu. Menunggu hingga sebuah pesawat melintas di jendela kamarku dan aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak menangis dan untuk alasan itulah aku tidak datang ke bandara, aku ingin melepasnya dengan rela, tidak dengan tangisan.
Saat sebuah pesawat putih melintas di langit pagi, dilatari sinar matahari pagi, aku menarik seuntai senyum dan melepas kepergiannya. Pesawat putihnya semakin tinggi dan tinggi, seperti bulu dandelion kecil yang terbang pergi. Selamat tinggal Fred, I’m going to miss you very soon…..