Dandelion


Monday, October 20, 2008

enambelas

Ponselku bergetar dan membuatku terbangun. Sebuah pesan singkat terpampang pada layarnya dan dengan pandangan yang setengah kabur aku membukanya.



Bisakah kita bertemu sekarang? Aku di depan rumahmu…



Dan pesan itu dari Fred. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan menegakkan badan, menggeliat dan menguap. Ini jam berapa? Dan saat kulihat jam di ponselku, disana ada angka 5.30 di layarnya. Apa dia gila?

Aku segera membuka jendela dan dia berdiri di bawah sana, sedang memandang ke atas dan dia memberi tanda padaku agar aku turun. Aku segera menutup tirai, mengganti piyamaku dengan sweater dan celana jins, menyikat gigi dan segera turun untuk bergabung dengannya.

“Ada apa?” tanyaku sambil mengikat rambut.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo..” dan dia membukakan pintu mobilnya untukku.

Apa lagi sih ini? dan sambil menebak-nebak selama perjalanan dalam mobilnya aku merasa perasaan teraneh dalam hidupku dan itu dinamakan, rindu. Indah sekali rasanya. Dan selama perjalanan kami hanya bicara satu dua kata, aku sendiri lebih banyak melihat keluar jendela, melihat orang-orang mulai melanjutkan aktivitas mereka.

Kini mobilnya merapat pada trotoar, matahari samar-samar muncul di ufuk timur dan burung-burung berkicau. Dia turun dari mobil dan aku mengikutinya, entah kami ada dimana yang jelas di depanku adalah sebuah gedung tua dan di sekitar gedung itu adalah beberapa orang sedang lari pagi sendiri atau dengan anjing mereka.

Dia mengeluarkan sekerenceng kunci dan memasukkan salah satunya pada pintu depan gedung itu dan dengan bunyi ‘klik’ pintu itu terbuka. Dia membimbing jalanku melewati pintu depan gedung putih yang berwarna kecokelatan karena kotor itu. Ruangan di dalamnya bisa dibilang rapi namun tidak ada orang, sepi dan gelap. Aku punya perasaan tidak nyaman di dalam sini.

“Ini adalah kantor Ayahku yang akan dijual karena akan berganti lokasi..” katanya dan dia menaiki tangga dan menyuruhku mengikutinya. Dan ternyata acara naik tangga berubah menjadi olahraga pagi karena tangga yang kami naiki rasanya tidak habis-habis.

“Berapa banyak lagi sih tangganya? Aku mulai lelah.” Kataku memprotes dan dia hanya tertawa.

“Beberapa.” Jawabnya singkat dan dia terus naik. Kakiku mulai sakit dan pegal saat akhirnya kami berhenti. Ini bukan lantai paling atas karena masih ada tangga lain yang menuju ke atas tapi dia membuka sebuah pintu dan memberi sinyal agar aku mengikutinya dan pintu ajaib itu, membimbingku ke tempat paling luar biasa dalam hidupku.

Sinar-sinar hangat mentari menyentuh tubuhku dan saat itu kami berada di suatu tempat luas, mirip atap sekolah, namun dari tempat ini, kami bisa melihat gunung di kejauhan dan matahari yang melengkapi semua pemandangan indah di hadapan mata. Jajaran gunung berhimpit membentuk gugusan dari timur ke barat dan dari tempat ini kami bisa melihat setengah kota.

Sinar matahari terpantul-pantul pada kaca mobil yang masih belum bergerak karena pemiliknya masih beristirahat, sinar matahari terpantul pada kaca-kaca gedung-gedung tinggi dan membuatnya terlihat seperti bercahaya, semuanya terlihat bercahaya dari atas sini.

Ada perasaan bahwa tangan-tanganku yang kini terulur bisa memeluk semuanya dan setelah mengetahui bahwa aku tidak bisa maka aku hanya diam memandangnya, takjub oleh keindahan alam. Dan ini bukanlah kali pertama Fred menunjukkan keindahan padaku, dia sudah menunjukkan keindahan malam padaku dan kini keindahan mentari pagi yang baru terbit.

“Indah..” kataku tanpa sadar dan dia tersenyum puas.

“Sudah!” katanya tiba-tiba dan aku menoleh padanya, “apanya yang sudah?”

“Terbayar sudah.” dan kini aku semakin bingung. “Sudah berminggu-minggu aku memikirkanmu dan bagaimana cara mengganti wajahmu yang sedih dalam kepalaku menjadi wajahmu yang bahagia seperti dulu. Dan aku tahu, mungkin pertemuan terakhir waktu itu adalah dengan hujan yang juga mempertemukan kita dulu…mungkin kau sudah lupa, tapi aku akan selalu ingat bagaimana kau menggigil kedinginan berjalan di trotoar dan membentakku saat kutawari tumpangan…” dia tertawa kecil dan aku merasa wajahku memerah, “ tapi kini aku ingin memulainya dari awal lagi, diawali dengan matahari terbit dan matahari akan selalu terbit setiap hari kan?” aku tidak percaya dengan perkataannya. Jadi dia membawaku kesini demi melihat reaksiku yang bahagia?

“Aku akan pergi besok…” katanya tiba-tiba setelah diam beberapa saat. Aku merasa cekaman kesedihan dalam dadaku, namun kubiarkan dan kututupi dengan senyum. “Jam berapa?” tanyaku.

“Jam 7 pagi.” Jawabnya singkat, matanya seperti selalu tertawa dan senyumnya bagaikan malaikat. Aku menolehkan pandanganku darinya pada pemandangan di hadapan kami. “Aku akan merindukanmu.” Kataku pelan dan kini mataku berair namun kuusap pergi. Aku tidak akan menangis pada hari seindah ini.

Dan dalam sekejap kurasakan tangannya mendekapku dan kali ini aku tidak akan menepisnya. Dan saat matahari sudah terbit sepenuhnya, dengan demikian, tahun ajaran ini berakhir dengan seharusnya. Aku akan naik kelas dan melanjutkan hidupku dan Fred akan melanjutkan hidupnya di Amerika.

Aku tidak percaya ini akan berakhir.





Dan sudah berakhir saat matahari keesokan harinya terbit. Saat jam menunjukkan pukul 7.00 keesokan harinya, aku mengirimkan pesan dari ponselku:


take care…


dan aku mendapatkan balasan cepat sekali


Goodbye Cres..thanks
Take care..


Dan aku membuka jendela kamarku dan menunggu. Menunggu hingga sebuah pesawat melintas di jendela kamarku dan aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak menangis dan untuk alasan itulah aku tidak datang ke bandara, aku ingin melepasnya dengan rela, tidak dengan tangisan.

Saat sebuah pesawat putih melintas di langit pagi, dilatari sinar matahari pagi, aku menarik seuntai senyum dan melepas kepergiannya. Pesawat putihnya semakin tinggi dan tinggi, seperti bulu dandelion kecil yang terbang pergi. Selamat tinggal Fred, I’m going to miss you very soon…..

Friday, October 10, 2008

limabelas

“Semuanya! Cepat!cepat! kita akan mulai dalam 5 menit!” suara Pak Didi membuat kami semua panik. Beberapa penari kalang kabut menyelesaikan dandanan mereka dan memakai topi mereka. “Bagaiman penampilanku?” tanya Erica dengan mata sungguh-sungguh padaku, aku yang sedang melamun langsung terkesiap, “Cantik!” kataku dan tepat saat itu tirai merah besar diangkat. Gemuruh tepuk tangan dari ratusan penonton membuat jantungku melompat-lompat.

Begitu juga dengan yang lain. Perlahan musik mengalun lembut dari speaker-speaker besar hitam di pojok-pojok ruangan. Dengan segala keanggunan dan keindahan Casey melompat masuk ke atas panggung, memimpin penari lainnya yang muncul beberapa saat kemudian saat dia sudah menyelesaikan tarian balletnya. Aku tidak bisa berhenti memastikan pemain-pemain di adegan berikutnya sudah siap atau belum dan mereka sudah menyuruhku untuk tutup mulut karena membuat mereka gugup.

Aku pun gugup setengah mati, rasanya aku bisa pingsan kapan saja. Sungguh!

Aku sudah memberikan mereka sinyal dengan tangan agar menaiki tangga yang akan membawa mereka ke atas panggung karena napasku mulai sesak, bukan karena panas di backstage, bukan karena bau kosmetik yang mengudara, tapi karena ini adalah suatu titik tolak besar dalam hidupku, pertama kalinya aku memimpin sesuatu yang benar-benar akbar.

Mereka menaiki tangga dengan mulus dan Erica menguasai panggung saat musik sudah dimatikan. Aku segera berlari ke bagian pengurus speaker, memastikan mic jepit yang dipakai semua pemain bisa berjalan dengan baik. Lalu aku kembali ke balik panggung untuk melihat hasil latihan berbulan-bulan dari balik tirai hitam yang memisahkan backstage dengan panggung.

Dekor yang luar biasa indah sudah terpasang dengan rapi di backgroundnya. Bahkan sebuah kastil raksasa yang terbuat dari sterofoam dan benar-benar bisa dimasuki sudah berdiri megah, mendominasi panggung.

Beberapa saat kemudian tibalah saatnya untuk Fred dan kawanan bangsawannya untuk berakting, aku sempat sekilas beradu mata dengannya, tapi seperti hari-hari sebelumnya, kualihkan pandanganku.

“Ayo kalian pasti bisa!” bisikku menyemangati dan mereka membalas dengan senyum gugup dan aku tahu kegugupan di wajahku akan membuat mereka makin gugup, tapi Fred tentu tidak. Dia sudah sangat profesional dan hanya melemparkan senyum sungguhan dan memberi kata-kata penyemangat untuk kami semua.

Mereka semua segera menaiki panggung dan secara tiba-tiba, cepat sekali, Derry jatuh terpeleset dan menimbulkan suara yang cukup besar, padahal saat itu mereka harusnya sedang berjalan dengan gagahnya memasuki ruang tengah rumah Freya, si putri bangsawan. Aku sungguh tak dapat menahan kakiku untuk segera melompat masuk ke panggung dan membantunya berdiri karena sekarang terdengar cekikikan kecil dari arah penonton, sebuah tangan besar menahanku untuk melompat naik, tangan Pak Didi.

Keringat dingin mengaliri pelipisku dan tanganku menutup mata. Dan tepat saat itu Fred membantu Derry berdiri dan melanjutkan akting, berpura-pura itu tidak pernah terjadi. Thanks god!

Sisa drama itu kuhabiskan dengan keringat dingin yang tak habis-habis diproduksi kelenjar keringatku, para pemain sudah silih berganti keluar panggung dan mereka berganti kostum dengan cepat-cepat, aku selalu membantu apa saja yang kubisa bantu dan akhirnya Pak Didi menyuruhku duduk diam karena rasanya aku akan pingsan beberapa saat lagi.

Tibalah saatnya July untuk masuk panggung. Kostum besar yang dipakainya, lengkap dengan sepatu boot khas anak bangsawan, sudah mulai membuat dirinya basah oleh keringat. “Good luck!” bisikku padanya dan dia tersenyum, tangannya meremas tanganku lalu dengan mantap dia naik ke atas panggung dan lampu sorot berpindah dari Giselle ke July. Jantungku berdegup kencang. Baru sebulan yang lalu dia hendak bunuh diri dan dengan beruntungnya terselamatkan.

Terdengar suara July menggelegar dan dia berakting bagus sekali, menyaingi Fred. Aku tak bisa melepas pandanganku dari July dan tiba-tiba sesuatu mendorongku dari belakang, aku menoleh dan wajah kikuk Sierra terlihat di belakangku. Dia berusaha melihat ke panggung yang disirami cahaya lampu sorot karena kini semua kru memang sedang berdesakkan untuk melihat ke panggung.

“Maaf..” gumamnya.

“Tidak apa-apa.” Jawabku. Aku dan Sierra sudah sebulan terakhir ini tidak bicara sejak kejadian di rumah sakit itu dan aku menyesalinya. Parahnya, July juga belum memberitahu kenyataannya pada Sierra, dan dia berkata akan mengatakannya sesegera mungkin. Sayangnya, aku pun terlalu sibuk dengan pementasan hari ini sehingga aku dan dia pun tidak merasa ada masalah bila tidak bertemu. Setidaknya, itulah yang kupikirkan pada awalnya.

Setiap kali aku teringat pada Sierra, pikiran itu kubuang jauh-jauh. Aku tidak berkata aku akan melupakannya karena aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana aku merindukannya. Tawanya, suaranya, wajahnya yang berseri-seri bila sedang senang. Aku merindukannya, tapi kini kami berdua semakin menjauh, mungkin ini memang jalannya..

Suara gemuruh tepukan tangan menyadarkanku dalam sekejap dan aku langsung fokus, para penari baru saja melewatiku satu per satu, naik ke atas panggung dan mereka lah yang menimbulkan semua tepuk tangan itu. Ya Tuhan, sebentar lagi pementasan ini akan selesai….

Para penari bergerak dengan riangnya sesuai koreografi yang dibuat Casey dan tak lama kemudian semua pemain ikut berkumpul di atas panggung, ikut menari dan bernyanyi.


“….Let me be your light for the night
Let me be the song to your soul….
Let me guide you through the day…
Just hold my hands and we’ll hold the day
Cause the miracle…..
Can happen….
If you believe………..”



Dan dengan suara sopran, sopranino, dan alto, lagu The Miracle hasil aransemen Steve berakhir dan para penari dengan para pemain berpose sebagai pose akhir.

Sunyi

Sepi

Tak ada suara, tak ada tepukan tangan.

Hatiku mencelos saat itu juga. Gagal kah?

Dan dalam hitungan detik kemudian, semua penonton berdiri serentak dan mereka bertepuk tangan dalam kesatuan yang membaur dan membuat bulu kuduk kami berdiri. Aku tidak bisa tidak menitikkan air mata dan saat itu juga sebuah tangan memelukku, tangan Sierra dan kami berdua berpelukan dengan tangis bahagia. Kru yang lain melompat-lompat dan berteriak kegirangan, dalam sekejap suasana backstage yang tegang berubah menjadi kegembiraan yang tak dapat dilukiskan.

Semuanya berjalan dengan mulus!

Terima kasih Tuhan!

Setelah kira-kira 6 menit tepukan tak berhenti, Fred membuka mulut dan berbicara dengan jelas dan lantang, semua orang mendengarkan.

“Semua ini tidak akan terlaksana tanpa semua kru di belakang sana. Bisakah kalian semua keluar?” dan dia melemparkan senyum pada kami, para kru. Dengan kegugupan, kami melangkah naik dan mendapat tepukan keras lagi.

Fred kembali membuka mulut. “Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih pada semua yang telah menonton, yang telah meluangkan waktu untuk datang dan duduk dan menonton kami berakting, kami harap anda tidak kecewa…”

“tambahan lagi…” dia berkata lagi. “semua drama ini tidak akan terlaksana tanpa seorang pemimpin yang baik dan luar biasa sekaligus penulis skrip ini, Crescentia!” beberapa tangan saat itu langsung mendorongku dan kini aku berdiri di barisan paling depan dengan para pemain dan penari, tepuk tangan bergemuruh kembali dan saat itu semua kelelahanku mengurus semua pementasan ini terbayar sudah.

Musik kembali mengalun dan kini dengan beat yang lebih cepat, kami semua berdansa dan bertepuk tangan, dan satu per satu penonton meninggalkan tempat duduk mereka dan kami masuk ke belakang panggung, senyum tersebar di setiap wajah.

“Kau luar biasa Cres!” kata beberapa orang sambil melewatiku dan aku hanya membalas dengan “terima kasih” dan sungguh, aku tidak bisa menghentkan senyuman di wajahku.
Semua pemain segera melepas kostum mereka dan beberapa membersihkan make-up di wajah mereka. Saat itu, aku sekilas melihat July menarik Sierra ke luar, aku mengikutinya dengan diam-diam.


Langit sudah gelap sepenuhnya di luar dan July melepas tangan Sierra yang semula ditariknya. Bau rumput basah mengudara dan angin dingin bertiup. July menarik napas dan membuangnya, lalu tak lama kemudian July berbicara, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas dan Sierra tampak mendengarkan dengan saksama.
Aku bergeser sedikit ke belakang pohon terdekat dan berdiri mematung disana, menahan napas, mendengar pengakuan July.

“Aku…..aku tidak seperti yang kau kira, dan kumohon, jangan marah pada Cres, dia tidak salah apa-apa. Semua memang bermula dariku..” katanya.

“Aku tidak akan menyalahkanmu kok. Aku sudah tahu sejak sebulan yang lalu, ternyata
Cres dan kau sudah jadian, normal kok..”

Apa? Jadi dia pikir aku dan July berpacaran?

“Bukan! Aku dan dia tidak pacaran! Kau salah paham..” kata July, napasnya terengah-engah dan terdengar jelas pada malam se sepi ini.

“Lalu apa?” tanya Sierra sambil melipat tangan. Ayo Jul! kau harus bisa! July menarik napas lagi dan kini kediaman yang menyelimuti sudah semakin tebal, kau harus segera mengaku Jul!

“Aku….” Dia terbata. “Aku transgender.”

Sierra terdiam sesaat, memandangnya dalam diam, masih dengan pandangan yang penuh tuntutan. Bukan reaksi yang kuharapkan. “Lalu?” tanyanya. July menatapnya, serasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Aku perempuan, Si. Aku perempuan dalam tubuh laki-laki. Kau tidak akan pernah mengerti…dan Cres sudah mengetahuinya sejak lama, dia seorang sahabat yang baik dan selalu setia saat aku butuh.” Katanya. Sierra kini melepas tangannya yang semula terlipat, membiarkan keduanya jatuh pada sisi-sisi tubuhnya.

“Kau bercanda?” tanyanya dengan tatapan sangsi.

“Aku serius!” July menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh. Dan Sierra menatapnya balik, “Itu kah penyebab dansa anehmu kemarin itu waktu pesta piyama?” tanya Sierra dan July mengangguk.

Sierra mengulur senyum tipis namun menyedihkan. “Maaf…” kata July padanya dan dalam lubuk hati Sierra, dia sudah memaafkannya sejak dulu, sejak sebelum dia mengetahui kebenarannya, semua orang memaafkanmu, Jul.

“Tidak apa-apa..” jawab Sierra dan kini terlihat jelas wajahnya antara shock dan kecewa yang amat sangat. “Aku sudah ingin memberitahumu sejak dulu tapi selalu tidak pernah punya nyali. Aku memang payah. Maaf. Mungkin agak aneh untuk pertama kalinya menganggapku seorang cewek, sama sepertimu, tapi inilah kenyataannya, maaf sekali lagi…” katanya.

Sierra hanya terdiam dan tanpa mengatakan apa-apa dia beranjak pergi, meninggalkan July, dan masuk ke backstage setengah berlari. Aku keluar dari tempat persembunyianku dan melemparkan senyum menyemangati pada July sebelum mengikuti
Sierra masuk ke backstage.

Backstage yang penuh sesak membuatku hampir tidak mungkin menemukannya dan kini sekelompok cewek-cewek anak baru yang menjadi penari baru saja selesai mengepak barang-barang mereka, mengganti kostum dengan jaket dan celana jins dan berpamitan padaku.

Saat jam menunjukkan pukul 10 malam, backstage tampak lengang, hanya ada beberapa pengurus inti, sedang menikmati beef burger gratisan dari Bu Tracy sebagai hadiah dari kerja keras kami. Memang beef burger sangat tidak sebanding, tapi bila beef burger diberikan dengan ketulusan dan pujian, rasanya menjadi lebih enak.

Aku baru saja menggigit gigitan pertama beef burgerku ketika Haylie buka mulut, “Malam yang indah.” Katanya dan kami semua menyetujuinya, kami makan dalam diam karena kami tidak membutuhkan kata-kata untuk membicarakan semua yang ingin kami bicarakan, tentang bagaimana akhirnya The Miracle berjalan dengan sukses dan kami senang dan tentunya, masih setengah tidak percaya. Perasaan yang hebat.

Sierra yang terlihat jelas habis menangis kini menatap mataku dan dia menguraikan senyumnya, aku juga membalasnya, dan persahabatan kami yang sudah kembali seperti semula tanpa kata-kata akan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
Dan kini Sierra menyandarkan kepalanya pada kepalaku. Aku merindukanmu Si.

...........

Sebulan kemudian......